Minggu, 04 Maret 2012

saya hanya seorang "Garwa Ampil"

"Teja tirta atmaja nata rahwana. Suteng indra prajane sri bumantara. Sun watara lamun sira darbe tresna.

Kawistiwa gones wicarane kawistiwa kawu ana tilik sumarah nyang hyang Suksma."








Once upon time in Ngadiraja Village.

Se
buah dukuh bernama Kasihan, Ngadiraja. Sebuah desa perdikan wilayah Mangkunegaran era 1800an. Alam yang luar biasa indah, tempat yang terkenal saat Raja-raja Surakarta melegitimasi dirinya sebagai Pemburu Ulung. 

Menginap di sebuah omah padesan, dengan jagung-jagung yang tergantung di Paga, diatas Pawon.

Seringkali mengambil Garwa ampil dari daerah perburuan, bangga sebagai mantu Raja. Meninggikan derajatnya dari kawula alit menjadi istri Pangeran, walau bukan garwa Prameswari. Karena sesaknya kaputren atau cemburunya Gusti Hemas, kadang menjadi garwa Ampil harus hidup di padukuhan asalnya.

Melesat , menerobos awan-awan sampai pada dukuh Kasihan. Rumah yang megrong-megrong lain dari pada yang lainnya. Sebuah rumah ber-pendapa kecil, pada Gandok tengen. Dibawah pohon Sawo kecik, seorang perempuan yang cantik dan merona sambil membelai rambutnya. Rambutnya yang masih basah dengan aroma Merang orang-aring. Matanya merona menahan rindu, tatapannya jauh ke atas mega, seolah menerawang Pangeran idamannya yang berada di Pura Timur.



Diantara beberapa emban yang sibuk memijitnya, membasuh kakinya dan pemain Gambang yang mengiringi keindahan malam itu, sayup-sayup terdengar suara merdu Perempuan itu di celah Daun Klurak dekat parit.
Mijil Wigaringtyas...





"Dhuh biyung emban, wayah apa iki?
Rembulan wus ngayom,
anggegana prang abyor lintangé.
Titi sonya, puspita kasilir, 
maruta wis kingis, sumrik gandanya rum."


"Kados Gusti, sampun tengah ratri,
pangintening batos."
"Iya kok durung rawuh mréné,
Gusti kakung, ratuné wong sigit.
Apa cidrèng janji, dora mring wak ingsun."

[dhuh emban, sekarang sudah pukul berapa?,

rembulan sudah bersinar dengan terang  benderang mengayomi bumi,
Bintang-bintang beterbangan dan menyebar diangkasa,
Saat  sepi terasa bunga-bunga yang tersapu angin, harum aromanya.]

[Sepertinya sudah tengah malam, Gusti Putri]

[tetapi Kanda Prabu belum juga datang, padahal Gusti Kakung itu raja yang berbudi bawalaksana,
Apakah akan mengingkari janjiku? berbohong padaku?]

sebuah kerinduan seorang garwa ampil, dengan keterbatasannya.
"Harta ini sudahlah cukup kanda, adinda hanya merindukan dekap kasihmu."



"dekap,


peluk,


kecup,


cinta, 

sayang,


kasih mu kutunggu kanda..."

*terinspirasi dari cerita tukang pencari kayu di  pedhusun Kasihan , Ngadiraja, Kab. Wonogiri. Jawa Tengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar