Senin, 13 Februari 2012

keilahian : Ia yang memikul raga

 tentang pengembaraaan Amongraga setelah ia meninggalkan istrinya dengan sedih hati. Dalam pengembaraan itu ia berkeinginan menyatu dengan Allah, sehingga ia mabuk dalam asyik-masyuk. Dia mendirikan padepokan di pantai selatan Mataram. Santrinya mencapai empat ribu orang lebih, pria dan wanita. Namun mereka seolah tak mempunyai otak, seperti terkena guna-guna, karena terbawa oleh permainan sulap dua murid Amongraga, Jamal dan Jamil. Akhirnya, bukan hanya karena mabuk dalam asyik-masyuk dengan Gusti, tetapi juga karena keliaran laku dua muridnya itu, Amongraga dihukum mati oleh para ulama di tanah Mataram. Sebelum menerima hukuman ia berujar," Kalau tangan-tangan edan memegang kekuasaan, harus dibunuh para nabi. Bunuhlah aku, oh abdi-abdi setiaku. Sebab membunuhku adalah menghidupkanku. Hidupku berada dalam matiku dan matiku dalam hidupku." Hukuman itu pun dijatuhkan, dengan dibuang ke samudra. Namun, justru samudra yang menyelamatkan Amongraga.

Tetapi, apakah kematian Syekh Siti Jenar dengan sendirinya mematikan pemikirannya. Ternyata tidak. Perdebatan pemikiran seperti itu masih mencuat hingga munculnya beberapa kesultanan di Jawa. Konflik tersebut menjadi tema yang akrab di Jawa pada saat itu. Bahkan, boleh jadi masih ada sampai sekarang.
Perdebatan Islam syariat dan Islam hakekat mewarnai kisah-kisah perkembangan Islam di Jawa, setelah berdirinya Kerajaan Islam Demak pada abad ke-16. Bahkan, perdebatan-perdebatan seperti itu akhirnya memunculkan berbagai ketegangan yang berkepanjangan.
Puncaknya terjadi ketika dewan Wali Sanga menjatuhkan hukuman mati kepada Syekh Siti Jenar yang dianggap telah menyebarkan aliran sesat.
Dosa yang ditudingkan kepada Syekh Siti Jenar karena menyebarkan ilmu hakekat kepada orang awam. Hal ini dianggap berbahaya, sebab dikhawatirkan orang awam yang menggeluti ilmu ini dapat meninggalkan syariat.
Syekh Siti Jenar pun akhirnya dipenggal lehernya oleh Sunan Kalijaga atas keputusan para wali. Kisah-kisah kesaktian Syekh Siti Jenar pun menyertai dalam cerita tokoh ini.
Tetapi, apakah kematian Syekh Siti Jenar dengan sendirinya mematikan pemikirannya. Ternyata tidak. Perdebatan pemikiran seperti itu masih mencuat hingga munculnya beberapa kesultanan di Jawa.
Konflik tersebut menjadi tema yang akrab di Jawa pada saat itu. Bahkan, boleh jadi masih ada sampai sekarang. Selain Syekh Siti Jenar pada jaman Sunan Giri, ada pula kisah Sunan Panggung pada jaman Kerajaan Demak dan Ki Bebeluk pada jaman Kerajaan Pajang.
Perdebatan-perdebatan itu, salah satunya, terungkap dalam Serat Cabolek, karya Raden Ngabehi Yasadipura I, seorang pujangga besar Keraton Surakarta pada abad ke-18. Kitab ini mengisahkan perilaku aneh Kiai Mutamakin dari Tuban. Namun, kesalahannya akhirnya diampuni raja.
Nasib seperti Syekh Siti Jenar juga dialami Syekh Among Raga pada jaman Sultan Agung berkuasa di Kerajaan Mataram. Kisah ini diangkat dalam Serat Centhini, karya sejumlah pujangga di Keraton Surakarta.
Terlepas dari kontroversi yang ada, Serat Centhini dipandang kalangan satrawan sebagai karya besar. Karya sastra ini tidak hanya besar dalam kandungannya, tetapi sekaligus besar dalam hal ketebalannya. Serat Centhini ditulis dengan huruf Jawa kuno dalam bentuk tembang.
Isinya mencakup berbagai hal tentang Jawa, mulai dari sejarah hingga horoskop Jawa. Beberapa bagian melukiskan dengan penuh syahwat dan nafsu sehingga menuai banyak kritikan. Begitu luasnya khasanah Jawa yang termuat, Serat Centhini mencapai ribuan lembar.
Kisah Syekh Amongraga hanyalah sebagian diantara isi Serat Centhini. Kisah ini pula yang diadaptasi Elizabeth D Inandiak dalam karyanya Ia yang Memikul Raganya. Judul aslinya, Les Chants de l’ile a dormir debout - le Livre de Centhini.
Ia yang Memikul Raganya adalah sebuah fragmen dari Serat Centhini. Buku ini merupakan jilid ketiga dari serangkaian jilid yang direncanakan. Jilid pertama berjudul Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan. Sedang jilid kedua berjudul Minggatnya Cebolang.
Jilid ketiga ini mengisahkan pengembaraan Amongraga setelah id meninggalkan isterinya, dengan dalih mencari dua adiknya yang hilang, menyusul penyerbuan Adipati Pekik di Surabaya terhadap Keraton Giri di kawasan Gresik sekarang.
Penyerbuan itu atas perintah Sultan Agung di Mataram. Hal itu dilakukan karen Keraton Giri hendak membangkang dari kekuasan Sultan Agung.
Dalam pengembaraannya, Amongraga berkeinginan menyatu dengan Allah, sehingga ia mabuk dalam asyik-masyuk. Siapa sebenarnya tokoh Amongraga ini. Ia tidak lain adalah seorang pangeran keturunan Sunan Giri, salah Satu Wali Sanga yang mendirikan keraton di sebuah bukit yang kini berada tidak jauh dari Makam Sunan Giri. Nama aslinya Jayengresmi.
Saat Sultan Agung berkuasa, Keraton Giri tidak mau bersujud kepadanya. Karena itu, Sultan Agung memerintahkan Adipati Pekik di Surabaya untuk menghancurkan Keraton Giri.
Dari pihak Giri, perang dipimpin oleh Endrasena, seorang pemuda Cina yang masuk Islam dan menjadi anak angkat Sunan Giri. Sedang putra Sunan Giri yang paling sulung Jayengresmi (Amongraga) menentang perang.
Dalam pertempuran itu Endrasena tewas tertembak. Keraton Giri akhirnya dibakar lawannya. Kekalahan Keraton Giri atas Sultan Agung itu menandai awal pengembaraan Amongraga. Awalnya, pengembaraan itu untuk mencari adiknya, Jayengsari dan Rangkacapti yang keduanya telah mengungsi ke tempat lain.
Dalam fragmen ini dikisahkan, Amongraga mengembara ke sejumlah tempat di bekas wilayah Kerajaan Majapahit. Dijumpainya candi-candi bekas peninggalan kerajaan itu. Ditemuinya para juru kunci. Bertemu pula dengan orang yang mengaku masih keturunan Raja Brawijaya.
Lalu meneruskan pengembaraannya di timur, di kawasan Gunung Bromo. Di sana bertemu dengan seorang yang masih menganut agama Budha. Amongraga kemudian mengembara ke barat. Di wilayah barat Jawa itu, Amongraga berguru kepada Ki Karang. Setelah itu diperintahkan menemui Ki Panurta di Wanamarta untuk berguru di sana. Sebelum ke Wanamarta, Amongraga mengunjungi Candi Sukuh di lereng barat Gunung Lawu.
Amongraga akhirnya menemui Ki Panurta. Namun, sebelum masuk ke padepokan Ki Panurta, Amongraga sempat berdialog dengan dua anaknya, tentang ilmu hakekat. Mengetahui ketinggian ilmu Amongraga, ia kemudian diijinkan bertemu dengan Ki Panurta.
Di situlah, Amongraga mengaku bahwa dirinya sebenarnya putera Sunan Giri. Amongraga akhirnya menikah dengan Tembangraras, anak Ki Panurto. Tembangraras memiliki abdi bernama Centhini.
Permintaan Ki Panurto kepada Amongraga agar puterinya diajari ilmu hakekat. Hal itu dipenuhi, namun Amongraga juga meminta permintaan. Ia bersedia menikahi dan mengajarkan ilmu kepada Tembangraras, namun tidak lama setelah menikah dirinya akan melanjutkan pengembaraan.
Selama empat puluh malam, Amongraga mengajari ilmu itu kepada Tembangraras. Dan, baru malam keempat puluh itu, keduanya berkumpul sebagai suami isteri. Namun, kecintaan Amongraga kepada Ilahi jauh lebih besar dibanding kepada isterinya. Malam itu, setelah isterinya tertidur, Amongraga meninggalkannya untuk melanjutkan pengembaraan.
Ia menyusuri kawasan pantai selatan Mataram. Amongraga juga mengajarkan ilmu di ke daerah Gunung Kidul. Pengembaraan Amongraga semakin mendekati Keraton Sultan Agung.
Ia membuka hutan Kanigoro (sekarang di wilayah Bantul.) dan mendirikan mesjid di sana. Orang-orang Gunungkidul berdatangan untuk berguru. Di tempat itu, santrinya mencapai empat ribu.
Namun, santrinya tak benar-benar taat kepada guru. Mereka seolah tak mempunyai otak, seperti terkena guna-guna, karena terbawa permainan sihir oleh dua murid Amongraga, Jamal dan Jamil.
Akhirnya, mereka bukan hanya karena mabuk dalam asyik-masyuk dengan Ilahi, tetapi juga karena keliaran laku oleh dua muridnya itu. Pria dan wanita tak mengenal tatakrama perkawinan, mereka bagaikan binatang.
Amongraga berada di sisi mereka dalam doa. Ia mengurangi makan dan minum. Ia telah habiskan seluruh nafsunya, kecuali satu: membalas dendam rasa malu yang dulunya diderita ayahhandanya, saat Keraton Giri diluluhlantakkan pasukan Pekik atas perintah Sultan Agung.
Dalam pertapaannya, Amongraga mengepung semua tempat kekuatan Raja Mataram, Gua Langse di tepi laut selatan, Samudera Padma Merah dan Gunung Merapi. Sementara, para pengikut Amongraga di Gunung Kidul terus berperilaku aneh. Mereka terbius oleh sihir-sihir dua murid Amongraga, melakukan ritual dengan telanjang dan lain sebagainya. Mereka juga tak mau lagi membayar pajak panen.
Hal itu akhirnya didengar Sultan Agung. Sultan memerintahkan Patih Wiraguna dan dibantu 12 ulama untuk menyadarkan Amongraga. Amongraga akhirnya dijatuhi hukuman, dimasukkan ke dalam bronjong dan digembok. Kerangkeng itu kemudian dibuang ke Samudera Padma Merah.
Kerangkeng itu akhirnya ditelan ombak laut selatan yang ganas. Namun, ada satu keanehan. Kerangkeng kembali terdampar ke pantai dengan keadaan kosong dan tergembok. Kerangkeng itu kemudian disampaikan Patih Wiraguna ke Sultan Agung sebagai bukti keajaiban.
Dikisahkan, di dalam penjara Mataram, Sunan Giri mengenali bahwa Amongraga yang dihukum ditenggelamkan ke laut adalah putera sulungnya yang dulu diusir karena menolak perang.


mengisahkan tentang pengembaraaan Amongraga setelah ia meninggalkan istrinya dengan sedih hati. Dalam pengembaraan itu ia berkeinginan menyatu dengan Allah, sehingga ia mabuk dalam asyik-masyuk. Dia mendirikan padepokan di pantai selatan Mataram. Santrinya mencapai empat ribu orang lebih, pria dan wanita. Namun mereka seolah tak mempunyai otak, seperti terkena guna-guna, karena terbawa oleh permainan sulap dua murid Amongraga, Jamal dan Jamil. Akhirnya, bukan hanya karena mabuk dalam asyik-masyuk dengan Gusti, tetapi juga karena keliaran laku dua muridnya itu, Amongraga dihukum mati oleh para ulama di tanah Mataram. Sebelum menerima hukuman ia berujar," Kalau tangan-tangan edan memegang kekuasaan, harus dibunuh para nabi. Bunuhlah aku, oh abdi-abdi setiaku. Sebab membunuhku adalah menghidupkanku. Hidupku berada dalam matiku dan matiku dalam hidupku." Hukuman itu pun dijatuhkan, dengan dibuang ke samudra. Namun, justru samudra yang menyelamatkan Amongraga.

Baca Artikel Aslinya Di: http://harisastra.blogspot.com/2011/01/ia-yang-memikul-raganya.html
Postingan Dari harisastra.blogspot.com Silahkan Kunjungi BlogSastra
mengisahkan tentang pengembaraaan Amongraga setelah ia meninggalkan istrinya dengan sedih hati. Dalam pengembaraan itu ia berkeinginan menyatu dengan Allah, sehingga ia mabuk dalam asyik-masyuk. Dia mendirikan padepokan di pantai selatan Mataram. Santrinya mencapai empat ribu orang lebih, pria dan wanita. Namun mereka seolah tak mempunyai otak, seperti terkena guna-guna, karena terbawa oleh permainan sulap dua murid Amongraga, Jamal dan Jamil. Akhirnya, bukan hanya karena mabuk dalam asyik-masyuk dengan Gusti, tetapi juga karena keliaran laku dua muridnya itu, Amongraga dihukum mati oleh para ulama di tanah Mataram. Sebelum menerima hukuman ia berujar," Kalau tangan-tangan edan memegang kekuasaan, harus dibunuh para nabi. Bunuhlah aku, oh abdi-abdi setiaku. Sebab membunuhku adalah menghidupkanku. Hidupku berada dalam matiku dan matiku dalam hidupku." Hukuman itu pun dijatuhkan, dengan dibuang ke samudra. Namun, justru samudra yang menyelamatkan Amongraga.

Baca Artikel Aslinya Di: http://harisastra.blogspot.com/2011/01/ia-yang-memikul-raganya.html
mengisahkan tentang pengembaraaan Amongraga setelah ia meninggalkan istrinya dengan sedih hati. Dalam pengembaraan itu ia berkeinginan menyatu dengan Allah, sehingga ia mabuk dalam asyik-masyuk. Dia mendirikan padepokan di pantai selatan Mataram. Santrinya mencapai empat ribu orang lebih, pria dan wanita. Namun mereka seolah tak mempunyai otak, seperti terkena guna-guna, karena terbawa oleh permainan sulap dua murid Amongraga, Jamal dan Jamil. Akhirnya, bukan hanya karena mabuk dalam asyik-masyuk dengan Gusti, tetapi juga karena keliaran laku dua muridnya itu, Amongraga dihukum mati oleh para ulama di tanah Mataram. Sebelum menerima hukuman ia berujar," Kalau tangan-tangan edan memegang kekuasaan, harus dibunuh para nabi. Bunuhlah aku, oh abdi-abdi setiaku. Sebab membunuhku adalah menghidupkanku. Hidupku berada dalam matiku dan matiku dalam hidupku." Hukuman itu pun dijatuhkan, dengan dibuang ke samudra. Namun, justru samudra yang menyelamatkan Amongraga.

Tetapi, apakah kematian Syekh Siti Jenar dengan sendirinya mematikan pemikirannya. Ternyata tidak. Perdebatan pemikiran seperti itu masih mencuat hingga munculnya beberapa kesultanan di Jawa. Konflik tersebut menjadi tema yang akrab di Jawa pada saat itu. Bahkan, boleh jadi masih ada sampai sekarang.
Perdebatan Islam syariat dan Islam hakekat mewarnai kisah-kisah perkembangan Islam di Jawa, setelah berdirinya Kerajaan Islam Demak pada abad ke-16. Bahkan, perdebatan-perdebatan seperti itu akhirnya memunculkan berbagai ketegangan yang berkepanjangan.
Puncaknya terjadi ketika dewan Wali Sanga menjatuhkan hukuman mati kepada Syekh Siti Jenar yang dianggap telah menyebarkan aliran sesat.
Dosa yang ditudingkan kepada Syekh Siti Jenar karena menyebarkan ilmu hakekat kepada orang awam. Hal ini dianggap berbahaya, sebab dikhawatirkan orang awam yang menggeluti ilmu ini dapat meninggalkan syariat.
Syekh Siti Jenar pun akhirnya dipenggal lehernya oleh Sunan Kalijaga atas keputusan para wali. Kisah-kisah kesaktian Syekh Siti Jenar pun menyertai dalam cerita tokoh ini.
Tetapi, apakah kematian Syekh Siti Jenar dengan sendirinya mematikan pemikirannya. Ternyata tidak. Perdebatan pemikiran seperti itu masih mencuat hingga munculnya beberapa kesultanan di Jawa.
Konflik tersebut menjadi tema yang akrab di Jawa pada saat itu. Bahkan, boleh jadi masih ada sampai sekarang. Selain Syekh Siti Jenar pada jaman Sunan Giri, ada pula kisah Sunan Panggung pada jaman Kerajaan Demak dan Ki Bebeluk pada jaman Kerajaan Pajang.
Perdebatan-perdebatan itu, salah satunya, terungkap dalam Serat Cabolek, karya Raden Ngabehi Yasadipura I, seorang pujangga besar Keraton Surakarta pada abad ke-18. Kitab ini mengisahkan perilaku aneh Kiai Mutamakin dari Tuban. Namun, kesalahannya akhirnya diampuni raja.
Nasib seperti Syekh Siti Jenar juga dialami Syekh Among Raga pada jaman Sultan Agung berkuasa di Kerajaan Mataram. Kisah ini diangkat dalam Serat Centhini, karya sejumlah pujangga di Keraton Surakarta.
Terlepas dari kontroversi yang ada, Serat Centhini dipandang kalangan satrawan sebagai karya besar. Karya sastra ini tidak hanya besar dalam kandungannya, tetapi sekaligus besar dalam hal ketebalannya. Serat Centhini ditulis dengan huruf Jawa kuno dalam bentuk tembang.
Isinya mencakup berbagai hal tentang Jawa, mulai dari sejarah hingga horoskop Jawa. Beberapa bagian melukiskan dengan penuh syahwat dan nafsu sehingga menuai banyak kritikan. Begitu luasnya khasanah Jawa yang termuat, Serat Centhini mencapai ribuan lembar.
Kisah Syekh Amongraga hanyalah sebagian diantara isi Serat Centhini. Kisah ini pula yang diadaptasi Elizabeth D Inandiak dalam karyanya Ia yang Memikul Raganya. Judul aslinya, Les Chants de l’ile a dormir debout - le Livre de Centhini.
Ia yang Memikul Raganya adalah sebuah fragmen dari Serat Centhini. Buku ini merupakan jilid ketiga dari serangkaian jilid yang direncanakan. Jilid pertama berjudul Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan. Sedang jilid kedua berjudul Minggatnya Cebolang.
Jilid ketiga ini mengisahkan pengembaraan Amongraga setelah id meninggalkan isterinya, dengan dalih mencari dua adiknya yang hilang, menyusul penyerbuan Adipati Pekik di Surabaya terhadap Keraton Giri di kawasan Gresik sekarang.
Penyerbuan itu atas perintah Sultan Agung di Mataram. Hal itu dilakukan karen Keraton Giri hendak membangkang dari kekuasan Sultan Agung.
Dalam pengembaraannya, Amongraga berkeinginan menyatu dengan Allah, sehingga ia mabuk dalam asyik-masyuk. Siapa sebenarnya tokoh Amongraga ini. Ia tidak lain adalah seorang pangeran keturunan Sunan Giri, salah Satu Wali Sanga yang mendirikan keraton di sebuah bukit yang kini berada tidak jauh dari Makam Sunan Giri. Nama aslinya Jayengresmi.
Saat Sultan Agung berkuasa, Keraton Giri tidak mau bersujud kepadanya. Karena itu, Sultan Agung memerintahkan Adipati Pekik di Surabaya untuk menghancurkan Keraton Giri.
Dari pihak Giri, perang dipimpin oleh Endrasena, seorang pemuda Cina yang masuk Islam dan menjadi anak angkat Sunan Giri. Sedang putra Sunan Giri yang paling sulung Jayengresmi (Amongraga) menentang perang.
Dalam pertempuran itu Endrasena tewas tertembak. Keraton Giri akhirnya dibakar lawannya. Kekalahan Keraton Giri atas Sultan Agung itu menandai awal pengembaraan Amongraga. Awalnya, pengembaraan itu untuk mencari adiknya, Jayengsari dan Rangkacapti yang keduanya telah mengungsi ke tempat lain.
Dalam fragmen ini dikisahkan, Amongraga mengembara ke sejumlah tempat di bekas wilayah Kerajaan Majapahit. Dijumpainya candi-candi bekas peninggalan kerajaan itu. Ditemuinya para juru kunci. Bertemu pula dengan orang yang mengaku masih keturunan Raja Brawijaya.
Lalu meneruskan pengembaraannya di timur, di kawasan Gunung Bromo. Di sana bertemu dengan seorang yang masih menganut agama Budha. Amongraga kemudian mengembara ke barat. Di wilayah barat Jawa itu, Amongraga berguru kepada Ki Karang. Setelah itu diperintahkan menemui Ki Panurta di Wanamarta untuk berguru di sana. Sebelum ke Wanamarta, Amongraga mengunjungi Candi Sukuh di lereng barat Gunung Lamu.
Amongraga akhirnya menemui Ki Panurta. Namun, sebelum masuk ke padepokan Ki Panurta, Amongraga sempat berdialog dengan dua anaknya, tentang ilmu hakekat. Mengetahui ketinggian ilmu Amongraga, ia kemudian diijinkan bertemu dengan Ki Panurta.
Di situlah, Amongraga mengaku bahwa dirinya sebenarnya putera Sunan Giri. Amongraga akhirnya menikah dengan Tembangraras, anak Ki Panurto. Tembangraras memiliki abdi bernama Centhini.
Permintaan Ki Panurto kepada Amongraga agar puterinya diajari ilmu hakekat. Hal itu dipenuhi, namun Amongraga juga meminta permintaan. Ia bersedia menikahi dan mengajarkan ilmu kepada Tembangraras, namun tidak lama setelah menikah dirinya akan melanjutkan pengembaraan.
Selama empat puluh malam, Amongraga mengajari ilmu itu kepada Tembangraras. Dan, baru malam keempat puluh itu, keduanya berkumpul sebagai suami isteri. Namun, kecintaan Amongraga kepada Ilahi jauh lebih besar dibanding kepada isterinya. Malam itu, setelah isterinya tertidur, Amongraga meninggalkannya untuk melanjutkan pengembaraan.
Ia menyusuri kawasan pantai selatan Mataram. Amongraga juga mengajarkan ilmu di ke daerah Gunung Kidul. Pengembaraan Amongraga semakin mendekati Keraton Sultan Agung.
Ia membuka hutan Kanigoro (sekarang di wilayah Bantul, Red.) dan mendirikan mesjid di sana. Orang-orang Gunungkidul berdatangan untuk berguru. Di tempat itu, santrinya mencapai empat ribu.
Namun, santrinya tak benar-benar taat kepada guru. Mereka seolah tak mempunyai otak, seperti terkena guna-guna, karena terbawa permainan sihir oleh dua murid Amongraga, Jamal dan Jamil.
Akhirnya, mereka bukan hanya karena mabuk dalam asyik-masyuk dengan Ilahi, tetapi juga karena keliaran laku oleh dua muridnya itu. Pria dan wanita tak mengenal tatakrama perkawinan, mereka bagaikan binatang.
Amongraga berada di sisi mereka dalam doa. Ia mengurangi makan dan minum. Ia telah habiskan seluruh nafsunya, kecuali satu: membalas dendam rasa malu yang dulunya diderita ayahhandanya, saat Keraton Giri diluluhlantakkan pasukan Pekik atas perintah Sultan Agung.
Dalam pertapaannya, Amongraga mengepung semua tempat kekuatan Raja Mataram, Gua Langse di tepi laut selatan, Samudera Padma Merah dan Gunung Merapi. Sementara, para pengikut Amongraga di Gunung Kidul terus berperilaku aneh. Mereka terbius oleh sihir-sihir dua murid Amongraga, melakukan ritual dengan telanjang dan lain sebagainya. Mereka juga tak mau lagi membayar pajak panen.
Hal itu akhirnya didengar Sultan Agung. Sultan memerintahkan Patih Wiraguna dan dibantu 12 ulama untuk menyadarkan Amongraga. Amongraga akhirnya dijatuhi hukuman, dimasukkan ke dalam bronjong dan digembok. Kerangkeng itu kemudian dibuang ke Samudera Padma Merah.
Kerangkeng itu akhirnya ditelan ombak laut selatan yang ganas. Namun, ada satu keanehan. Kerangkeng kembali terdampar ke pantai dengan keadaan kosong dan tergembok. Kerangkeng itu kemudian disampaikan Patih Wiraguna ke Sultan Agung sebagai bukti keajaiban.
Dikisahkan, di dalam penjara Mataram, Sunan Giri mengenali bahwa Amongraga yang dihukum ditenggelamkan ke laut adalah putera sulungnya yang dulu diusir karena menolak perang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar