Senin, 13 Februari 2012

Jihad yang sesungguhnya : Nafsu terakhir


Selama empat puluh hari lamanya kedua pasang penganten itu menunda hubunganbadan di malam pertamanya. Amongraga menyampaikan ajaran tasawuf Jawakepada sang istri. Ini dilakukan agar keduanya menjadi jinak dalam ketelenjangantubuh mereka, dan menyingkap cadar rohnya dengan ketegangan syahwat sertabatin. Abdi setia Tembangraras, Centini menyimak wejangan tuannya dari baliktirai ranjang. Baru pada malam empat puluh satunya yang hujan, keduanyabersenggama. Tapi, usai bersenggama Amongraga meningalkan Tembangrarasuntuk mengembara mencari kedua adiknya.

Keempat utusan ayahanda Tembangraras mendengar kabar jika Amongragadihukum oleh ulama Mataram karena dituduh telah menyesatkan ribuanpengikutnya di Gunung Kidul tempat Amongraga bertapa Brata. Para pengikut itudiduga menjadi kehilangan akalnya karena terpengaruh guna-guna kedua murid Amongraga, Jamal dan Jamil. Amongraga dibuang ke tengah samudra. Kabar inisegara diwartakan oleh ke empat pengembara itu ke padepokan. Seisi padepokantak bisa berkata-kata kecuali menitikan air mata. Namun kabar ini justru membuat Tembangraras yakin bahwa suaminya masih hidup. Bersama Centini,Tembangraras pagi-pagi buta meninggalkan padepokan mengembara mencaribelahan jiwanya.Dalam pengembarannya, kedua perempuan itu menyamar sebagai laki-laki.Mengenakan kumis dan berpakian menyerupai laiknya pria. Ditengah jalan merekamenjumpai ke perkampungan para gali kelas kakap. Tembangraras cemas. Ia takhabis pikir jika para pria bengis itu mengetahui jika tamunya yang mengaku santripengembara ini adalah perempuan. Mereka pasti tak cuma merampok barangberhaganya, tapi juga kehormatannya. kekhawatiran Tembangraras benar-benarterjadi. Para perampok itu tahu ketika meraba-raba pakian Tembangraras untukmengambil barang berhaga yang dibawanya, salah seorang menyentuh bagiantubuh kewanitaan putri jelita itu. Tapi Centini tak kehabisan akal. Diamenyodorkan bokongnya, seraya menantang para pria itu agar memasukkannyakeduburnya. Ketika salah seorang hendak memasukkan ke dubur Centini, abdisetia Tembangraras itu menyemburkan kentut semarnya hingga terpentallah parapria di depannya dan dibuatnya kalang kabut.Begitu lama Tembangraras dan Centini larut dalam pengembaraan. Sang TuanPutri putus asa. Ia menggali kuburnya sendiri dengan tangannya yang sudahlemah. Ia membungkukkan tubuhnya dalam posisi duduk dengan kaki
 Selonjor

Centini membujuk tuan junjunganya agar mengurungkan niatnya, tapi takdigubris. Tembangraras memasuki alam roh, mengutus abdi setianya Centini kecakrawala. Di sana Tembangraras bertemu dengan Mangunarsa yang tak lainadalah Jayengsari dan Rencangkapti, kedua adik Amongraga yang telah mati.

Keempat utusan ayahanda Tembangraras mendengar kabar jika Amongragadihukum oleh ulama Mataram karena dituduh telah menyesatkan ribuanpengikutnya di Gunung Kidul tempat Amongraga bertapa Brata. Para pengikut itudiduga menjadi kehilangan akalnya karena terpengaruh guna-guna kedua murid Amongraga, Jamal dan Jamil. Amongraga dibuang ke tengah samudra. Kabar inisegara diwartakan oleh ke empat pengembara itu ke padepokan. Seisi padepokantak bisa berkata-kata kecuali menitikan air mata. Namun kabar ini justru membuatTembangraras yakin bahwa suaminya masih hidup. Bersama Centini,Tembangraras pagi-pagi buta meninggalkan padepokan mengembara mencaribelahan jiwanya.Dalam pengembarannya, kedua perempuan itu menyamar sebagai laki-laki.Mengenakan kumis dan berpakian menyerupai laiknya pria. Ditengah jalan merekamenjumpai ke perkampungan para gali kelas kakap. Tembangraras cemas. Ia takhabis pikir jika para pria bengis itu mengetahui jika tamunya yang mengaku santripengembara ini adalah perempuan. Mereka pasti tak cuma merampok barangberhaganya, tapi juga kehormatannya. kekhawatiran Tembangraras benar-benarterjadi. Para perampok itu tahu ketika meraba-raba pakian Tembangraras untukmengambil barang berhaga yang dibawanya, salah seorang menyentuh bagiantubuh kewanitaan putri jelita itu. Tapi Centini tak kehabisan akal. Diamenyodorkan bokongnya, seraya menantang para pria itu agar memasukkannyakeduburnya. Ketika salah seorang hendak memasukkan ke dubur Centini, abdisetia Tembangraras itu menyemburkan kentut semarnya hingga terpentallah parapria di depannya dan dibuatnya kalang kabut.Begitu lama Tembangraras dan Centini larut dalam pengembaraan. Sang TuanPutri putus asa. Ia menggali kuburnya sendiri dengan tangannya yang sudahlemah. Ia membungkukkan tubuhnya dalam posisi duduk dengan kaki
 selonjor
.Centini membujuk tuan junjunganya agar mengurungkan niatnya, tapi takdigubris. Tembangraras memasuki alam roh, mengutus abdi setianya Centini kecakrawala. Di sana Tembangraras bertemu dengan Mangunarsa yang tak lainadalah Jayengsari dan Rencangkapti, kedua adik Amongraga yang telah mati.

Atas kekuasaan Allah, Amongraga tiba-tiba disadarkan jika semua saudaranya telah mati. Segera saja ia menghentikan pertapaannya dan menemui mereka.Beruntung jenazah-jenazah itu belum dimandikan. Di depan mayat itu Amongragabersujud, dan ketiga mayat itu bisa hidup kembali karena sebenarnya mereka cumapingsan. Tembangraras segera mengenali suaminya, sementara itu kedua adiknyayang terpisah sejak mereka masih kecil, sama sekali tak mengenali jika yang adadihadapannya itu adalah kakaknya yang selama ini dicari. Tembangrarasmemperkenalkan Amongraga kepada kedua adiknya.Begitulah kisah pengembaraan panjang Amongraga yang dikisahkan dalam jilid kesembilan Centini di buku ini. Hingga akhirnya ia bertemu dengan pengembara asalCina yang beragama islam. Dia adalah Endrasena. Amongraga sempat tegangmenemui ratusan pasukan bersenjata di belakang pengembara tampan itu.“Endrasena! Saudaraku! Apa yang kamu lakukan di situ?”“San kamu? Hai pangeran Giri! Jadi begitu, kamu menjauhi semua makhluk untukmendekatkan diri kepadaNya. kamu berupaya berada di kehadiranNya tapi kamubelum bisa lepas dari dirimu sendiri!”Endrasena kemudian menantang Amongraga bermain petak umpet. Bagi yangmemenangkan permainan ini akan mendapat kehadiranNya. Amongraga kalah. Diantara sinar kegelapan , Amongaraga bersujud. Dengan suara terpatah-patah, diamengakui kekalahannya. Endrasena mengingatkan Amongraga bahwa dirinyaterlalu berambisi kepada jihad besarnya, tapi ia lupa akan jihad kecil.“Jihad yang mana?” tanya Amongraga.“Apa kamu lupa bagaimana ayah kita Sunan Giri, telah dikalahkan Sultan Agung?Tak tahukah kamu bahwa beliau telah wafat merana di penjara Mataram,  ” jawabEndrasena. Amongraga masih belum juga paham. Endrasena kini benar-benarmenghilang dari pandangannya. Amongraga dan Tembangraras pergi ke Mataram menemui Aji Nyakrakusuma,panggilan Sultan Agung. Mereka menyatakan keinginannya untuk mencarikedamaian. Keingiannya itu disambut dengan santun oleh Sang Aji. Dikatakan olehraja Mataram itu bahwa raja adalah orang yang terlalubesar yang dilanda rasatakut hebat. Ayah Amongraga mati karena terlalu menginginkan mahakuasa Allahketimbang melayaninya.
“Badai telah menduduki tahta para raja,Sebab untuk membuat gurun, Tuhan, Gusti kita semua. Memulai dari raja dan mengakhiri pada angin.” 
Maka atas perintah Sang Aji kedua pasang suami istri itu berubah menjadi ulat.Satu jantan dan satunya betina. Yang jantan cincinnya berwarna gelap danberbulu, yang betina gelangnya merah dan gembur. Ulat yang jantan dimakan ultan Agung yang akan menjadi putranya dan kelak akan menjadi raja. 

Ulat yangbetina dimakan Pangeran Pekik, ipar sang raja, yang kelak akan menikahisepupunya.Tapi keturunan raja, yang diberi nama arab, Sayidin, yang kemudiangkat menjadiraja Amangkurat I itu melakukan pembantaian para ulama hingga membuatnyatak layak menerima gelar Sultan. Ia mensinyalir ada persekonkolan untukmenjatuhkannya. Ia memerintahkan prajuritnya membunuh siapa saja yangdicurigainya termasuk pamannya sendiri, Pangeran Pekik. Ia membunuh parapejabat Tua dan menggantikannya dengan yang lebih muda.Persaingan perebutan kekuasaan pun terjadi antara anak dan bapak. Pangeran Anom yang mendapatkan dukungan dari pangeran dari pulau Madura melancarkanserangan ke Mataram. Sang raja melarikan diri hingga akhirnya menemukanajalnya dalam pelariannya sebelum mencapai pesisir. Mayatnya dimakamkan diTegalwangi. Di batu nisannya tertulis, yang entah oleh tangan siapa: “Hampir matipada dirinya sendiri, hanya nafsu terakhirnya yang menjelma.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar