Minggu, 04 Maret 2012

saya hanya seorang "Garwa Ampil"

"Teja tirta atmaja nata rahwana. Suteng indra prajane sri bumantara. Sun watara lamun sira darbe tresna.

Kawistiwa gones wicarane kawistiwa kawu ana tilik sumarah nyang hyang Suksma."








Once upon time in Ngadiraja Village.

Se
buah dukuh bernama Kasihan, Ngadiraja. Sebuah desa perdikan wilayah Mangkunegaran era 1800an. Alam yang luar biasa indah, tempat yang terkenal saat Raja-raja Surakarta melegitimasi dirinya sebagai Pemburu Ulung. 

Menginap di sebuah omah padesan, dengan jagung-jagung yang tergantung di Paga, diatas Pawon.

Seringkali mengambil Garwa ampil dari daerah perburuan, bangga sebagai mantu Raja. Meninggikan derajatnya dari kawula alit menjadi istri Pangeran, walau bukan garwa Prameswari. Karena sesaknya kaputren atau cemburunya Gusti Hemas, kadang menjadi garwa Ampil harus hidup di padukuhan asalnya.

Melesat , menerobos awan-awan sampai pada dukuh Kasihan. Rumah yang megrong-megrong lain dari pada yang lainnya. Sebuah rumah ber-pendapa kecil, pada Gandok tengen. Dibawah pohon Sawo kecik, seorang perempuan yang cantik dan merona sambil membelai rambutnya. Rambutnya yang masih basah dengan aroma Merang orang-aring. Matanya merona menahan rindu, tatapannya jauh ke atas mega, seolah menerawang Pangeran idamannya yang berada di Pura Timur.



Diantara beberapa emban yang sibuk memijitnya, membasuh kakinya dan pemain Gambang yang mengiringi keindahan malam itu, sayup-sayup terdengar suara merdu Perempuan itu di celah Daun Klurak dekat parit.
Mijil Wigaringtyas...





"Dhuh biyung emban, wayah apa iki?
Rembulan wus ngayom,
anggegana prang abyor lintangé.
Titi sonya, puspita kasilir, 
maruta wis kingis, sumrik gandanya rum."


"Kados Gusti, sampun tengah ratri,
pangintening batos."
"Iya kok durung rawuh mréné,
Gusti kakung, ratuné wong sigit.
Apa cidrèng janji, dora mring wak ingsun."

[dhuh emban, sekarang sudah pukul berapa?,

rembulan sudah bersinar dengan terang  benderang mengayomi bumi,
Bintang-bintang beterbangan dan menyebar diangkasa,
Saat  sepi terasa bunga-bunga yang tersapu angin, harum aromanya.]

[Sepertinya sudah tengah malam, Gusti Putri]

[tetapi Kanda Prabu belum juga datang, padahal Gusti Kakung itu raja yang berbudi bawalaksana,
Apakah akan mengingkari janjiku? berbohong padaku?]

sebuah kerinduan seorang garwa ampil, dengan keterbatasannya.
"Harta ini sudahlah cukup kanda, adinda hanya merindukan dekap kasihmu."



"dekap,


peluk,


kecup,


cinta, 

sayang,


kasih mu kutunggu kanda..."

*terinspirasi dari cerita tukang pencari kayu di  pedhusun Kasihan , Ngadiraja, Kab. Wonogiri. Jawa Tengah

Kamis, 16 Februari 2012

petani dari Sukowati



SEBUAH CERITA DARI PETANI SUKOWATI

Ketika ia meloncat berdiri sambil menyeringai, ia sempat melihat orang itu. Seorang yang bertubuh tinggi kekar, bermata tajam dan berwajah sedalam lautan. Menilik raut mukanya yang meskipun kotor oleh debu dan keringat, orang itu bukan orang kebanyakan. Tetapi menilik pakaiannya, ia adalah seorang petani miskin yang baru berada dalam perjalanan yang jauh. Bajunya dibuka dan dililitkan di lambungnya. Kain panjangnya disingsingkannya pula, sehingga celananya yang sampai di bawah lututnya tampak kumal dan kotor sekotor wajahnya itu.
Kehadiran orang itu ternyata telah menarik perhatian. Sejenak ia berdiam diri memandang Buntal yang tertatih-tatih berdiri. Kemudian memandang orang-orang yang berada di sekitar arena perkelahian itu.
“Kenapa tuan-tuan berkelahi disini?“ bertanya orang itu dengan suara yang berat.
“Siapa kau?“ Rudiralah yang bertanya.
“Aku seorang petani yang berada dalam perjalanan yang jauh tuan. Dan siapakah tuan? Menilik pakaian tuan, tuau adalah seorang bangsawan”
“Ya. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma”
“O“ petani yang bertubuh tinggi itu mengangguk dalam-dalam “Maafkan aku tuan. Aku tidak tahu, bahwa tuan adalah seorang putera Pangeran”
“Sekarang kau sudah tahu. Minggirlah. Kami sedang menyelesaikan persoalan kami”
“Maaf tuan, apakah aku boleh bertanya?“
Rudira memandang orang itu dengan tajamnya. Tetapi jaraknya-tidak begitu dekat
“Kenapa perkelahian ini tidak dilerai? Dan agaknya anak muda yang seorang itupun sudah terkepung pula?“
Itu urusanku. Pergilah. Jangan mencampuri persoalan orang lain. Aku adalah putera Pangeran Ranakusuma. Aku mempunyai wewenang untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginanku atas orang-orang kecil yang tidak tahu adat ini”
“Jadi, tuanlah yang sedang melakukan tindakan kekerasan atas orang-orang kecil ini?“
“Ya”
“Apakah salah mereka?“
“Kau tidak mempunyai sangkut paut apapun juga dengan mereka. Pergilah, supaya kau tidak tersangkut di dalam persoalan ini” bentak Rudira.
“Aku sudah berjalan jauh tuan. Tetapi aku tidak pernah menjumpai persoalan serupa ini. Seharusnya tuan dan pengawal-pengawal tuan melindungi orang-orang kecil ini dari segala macam kesulitan”
“Diam, diam“ tiba-tiba Rudira membentak “Kau tahu akibat dari kata-katamu itu he? Bahwa kau berani membantah kata-kataku, itu adalah alasan yang baik bagiku untuk bertindak. Kau mengerti?“
“Mengerti tuan. Tetapi perjalananku yang jauh mengajar kepadaku, agar aku tidak cukup sekedar mengerti sikap orang lain, tetapi aku harus menilainya pula, apakah sikap itu benar atau tidak”
Tiba-tiba mata Rudira bagaikan menyala. Ia tidak menyangka bahwa orang yang tiba-tiba saja datang melihat perkelahian itu, bersikap sangat menyakitkan hati.
“He, apakah kau bukan kawula Surakarta?“
“Aku kawula Surakarta”
“Kenapa kau berani bersikap semacam itu kepadaku. Kepada putera Pangeran Ranakusuma”
“Aku pernah berjalan berkeliling kota Surakarta. Dan aku memang pernah mendengar siapakah Pangeran Ranakusuma itu. Kalau tuan puteranya, maka tuan pasti pernah melihat, ayahanda tuan adalah sahabat yang baik dari orang-orang yang berkulit aneh itu. Kulitnya tidak seperti kulit kita dan matanya tidak seperti mata kita. Tetapi itu bukan alasan untuk menarik batas antara kita yang berkulit kotor dan bermata gelap ini dengan mereka, tetapi tindak dan sikap merekalah yang membuat jarak antara kita dengan orang-orang asing itu. Memang tidak ada bedanya di dalam hakekat, bahwa kita adalah mahluk Tuhan seperti mereka. Tetapi juga tidak akan dibenarkan apabila yang satu mulai melakukan penghisapan kepada yang lain. Bangsa yang satu atas bangsa yang lain. Nah, tolong, sampaikan kepada ayahanda tuan, bahwa akulah yang berkata demikian”
“Siapa kau?“
“Seorang petani dari Sukawati”
“Huh“ Raden Rudira menjadi semakin marah “Apa artinya seorang petani bagi ayahanda. Pergi dari tempat ini, atau kau harus mengalami nasib seperti anak itu?“
“Anak ini adalah benih yang baik buat masa mendatang. Aku sebenarnya sudah melihat perkelahian yang terjadi disini dari kejauhan. Tetapi ketika aku melihat benih masa mendatang ini akan dipatahkan, aku merasa sayang, sehingga akupun mendekat”
Jawaban itu bagaikan Sebuah tamparan yang langsung diwajab Rudira, sehingga wajah itupun menjadi merah padam. Dengan suara bergetar ia berkata “Jadi jadi, apa maksudmu he? Apa yang akan kau lakukan?“
“Aku melihat dua orang anak petani ini dapat berbuat banyak di saat-saat mendatang, Karena itu, jangan tuan mengganggunya”
“Persetan. Kau tidak dapat mencegah aku. Atau kau sendiri yang akan menjadi pengewan-ewan disini?”
“Tuan, aku sudah mendekati arena. Karena aku merasa sayang kepada dua orang anak muda yang berkelahi melawan beberapa orang inilah maka aku datang. Anak ini memang bukan lawan raksasa yang dungu itu”
“Gila“ Sura hampir berteriak “Apakah kau akan turut campur?“
“Maaf. Aku terpaksa turut campur”
“Sura” teriak Rudira yang tidak sabar lagi “selesaikan orang itu”
“Baik tuan” jawab Sura sambil membusungkan dadanya. Lalu katanya “Petani dari Sukawati, jangan menyesal bahwa kau hari ini telah salah langkah”
“Aku akan menerima segala nasib yang akan menimpaku hari ini” jawab petani itu.
Namun dalam pada itu Buntal tiba-tiba berkata “Pergilah. Pergilah supaya kau tidak terlibat dalam persoalan ini”
“Aku memang melibatkan diriku, anak muda” jawab petani itu.
Tetapi petani itu tidak sempat lagi mengucapkan kata-kata yang sudah di kerongkongan, karena tiba-tiba saja Sura telah menyerangnya. Tangannya terayun dengan derasnya ke wajah petani yang kotor itu. Tangan Sura yang mempunyai kekuatan melampaui kekuatan kawan-kawannya abdi Ranakusuman.
Yang melihat ayunan tangan Sura itu menahan nafas. Demikian juga Juwiring, Buntal dan bahkan Rudira sendiri. Kalau tangan itu mengenai pelipis petani itu, maka ia pasti akan pingsan seketika.
Tetapi yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Setiap orang yang menyaksikan hanya dapat berdiri dengan mulut ternganga. Mereka hampir tidak percaya atas apa yang telah terjadi.
Dengan tenangnya, petani dri Sukawati itu menggerakkan tangannya. Tenang tetapi secepat gerak tangan Sura. Hampir tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, tiba-tiba saja orang itu telah berhasil menggenggam pergelangan tangan raksasa yang marah itu. Demikian cepatnya, sehingga Sura tidak sempat menariknya. Bahkan sekejap kemudian terdengar Sura itu mengaduh pendek. Tangannya ternyata jelah terpilin di punggungnya. Kemudian suatu hentakkan yang keras mendorongnya, sehingga Sura itupun jatuh menelungkup dengan derasnya, sehingga wajahnya telah menyentuh tanah.
Tidak seorangpun yang dapat mengatakan, apa yang telah dilakukan oleh petani yang mengaku berasal dari Sukawati itu. Tetapi yang mereka lihat kemudian Sura berusaha dengan susah payah bangkit berdiri. Ketika ia meraba dahinya, terasalah sepercik darah dari kulitnya yang tersobek karena benturan sepotong batu padas.
Peristiwa yang sesaat itu, ternyata telah membuat gambaran yang jelas kepada semua orang yang menyaksikan, apa saja yang dapat dilakukan oleh petani yang sedang dalam perjalanan jauh itu. Karena itu, maka dada merekapun menjadi berdebaran.
Rudira yang menyaksikan hal itupun seolah-olah telah membeku. Hampir tidak masuk akal, bahwa raksasa itu dapat dijatuhkannya dengan mudah dalam perkelahian beradu muka. Berbeda dengan serangan Buntal yang tidak terduga-duga. Tetapi kali ini justru Suralah yang telah menyerang orang itu.
Hal itu membuat jantung Rudira menjadi susut. Tetapi darahnya yang menggelegak membuatnya berteriak “He petani dungu. Kau sudah melawan keluarga Ranakusuma. Kau akan menyesal. Kami akan beramai-ramai mencincangmu tanpa tuntutan apapun juga”
“Silahkanlah tuan. Disini aku tidak berdiri sendiri. Setidak-tidaknya aku mempunyai dua orang kawan untuk melawan tuan bersama kawan-kawan tuan. Dan sebelumnya aku akan memperingatkan kepada tuan, bahwa tuan bersama pengiring tuan seluruhnya, tidak akan dapat melawan kami bertiga”
Rudira menggeram. Tetapi ia tidak begitu saja mempercayainya. Karena itu, ia berteriak “Hancurkan orang itu lebih, dahulu”
Kini para pengiringnya memandang petani itu dengan penuh keragu-raguan. Tetapi apabila Raden Rudira memerintahkan, merekapun harus melakukannya. Berkelahi dengan petani yang dengan sekilas telah menunjukkan kelebihan yang hampir tidak masuk akal.
“Cepat” teriak Rudira “Orang itu harus kalian selesaikan dahulu, sebelum cucurut-cucurut kecil itu”
Para pengiring Rudirapun mulai bergerak, betapapun dada mereka diguncang oleh keragu-raguan. Apapun yang akan mereka alami, namun mereka tidak akan dapat menolak perintah Raden Rudira. Tetapi langkah mereka terhenti, ketika mereka melihat Juwiring dan Buntalpun mulai bergerak pula. Dengan nada yang dalam Juwiring dan Buntalpun mulai bergerak pula. Dengan nada yang dalam Juwiring berkata “Terima kasih atas pertolonganmu, petani dari Sukawati. Dan kini sudah barang tentu bahwa aku tidak akan membiarkan orang-orang itu mengerubutmu beramai-ramai. Aku dan adikku akan turut campur dalam setiap pertengkaran dengan kau apapun alasannya. Apalagi karena kau telah menolong aku dan adikku”
“Terima kasih. Kita akan berkelahi bersama-sama melawan mereka” jawab petani dari Sukawati itu.
Ternyata hal itu telah mengguncangkan jantung Rudira. Sejenak ia memandang Juwiring, kemudian Buntal dan yang terakir petani dari Sukawati itu.
Namun tiba-tiba saja ia menyadari keadaannya. Para pengiringnya tidak akan dapat melawan mereka bertiga. Orang yang bertubuh tinggi kekar itu memiliki kemampuan yang tidak terduga-duga. Kalau ia memaksakan perkelahian, maka ia pasti akan menderita malu jauh lebih banyak lagi. Sehingga karena itu, maka Rudira yang masih sempat menilai keadaan itu tiba-tiba saja berkata lantang “Gila, semuanya sudah gila. Dan kita tidak akan terseret ke dalam kegilaan ini. Marilah kita tinggalkan orang-orang gila yang tidak berharga ini. Kita akan pergi berburu. Lebih baik menghunjamkan anak panah kita ke tubuh seekor kancil daripada harus dikotori dengan darah orang-orang yang tidak tahu adat ini. Tetapi ingat, bahwa keluarga Ranakusuma tidak akan tinggal diam. Kami akan mengambil tindakan yang pantas bagi kalian. Pada saatnya kami akan pergi juga ke Sukawati untuk menemukan seorang petani yang sombong macam kau”
Petani itu menengadahkan wajahnya. Jawabnya “Aku akan menunggu tuan. Dan aku akan mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungan tuan di Sukawati”
“Persetan. Kau akan menyesal” lalu ia berteriak kepada para pengiringnya “tinggalkan cucurut-cucurut ini. Tangan kita jangan dikotori oleh lumpur yang melekat di tubuh mereka”
Keputusan itu terasa seperti embun yang menitik di hati para pengiringnya yang kering. Perintah itu tidak perlu diulang lagi. Ketika Rudira kemudian pergi ke kudanya dan langsung meloncat naik ke punggungnya, maka para pengiringnyapun segera berbuat serupa.
Sejenak kemudian maka kaki-kaki kuda itu berderap diatas tanah yang berbatu padas, melontarkan debu putih yang mengepul di udara. Beberapa pasang mata mengikutinya dengan debar jantung yang terasa semakin cepat.
Juwiring memandang debu yang semakin lama menjadi semakin tipis, dan yang kemudian lenyap disapu angin, seperti kuda-kuda yang berderap itu hilang di kejauhan.
Sambil menarik nafas ia berpaling kepada petani yang mengaku dari Sukawati itu. Kemudian dengan mantap ia berkata ”sekali lagi aku mengucapkan terima kasih Ki Sanak”
Petani itu menarik nafas dalam-dalam pula, seakan-akan ia ingin berebut menghirup udara dengan Juwiring. Katanya “Kita sekedar saling tolong menolong” lalu sambil memandang kepada Buntal ia berkata “Bukankah kau tidak apa-apa”
Buntal menggeleng. Jawabnya “Tidak. Aku tidak apa-apa”
“Sokurlah. Ternyata bahwa mereka, maksudku Putera Pangeran Ranakusuma beserta pengiringnya bukan orang-orang yang kuat lahir dan batinnya. Sebenarnya pertengkaran semacam ini tidak perlu terjadi”
Juwiring akan menyahut. Tetapi suaranya terputus ketika ia melihat seorang tua yang berlari-lari langsung mendapatkan Arum sambil berkata “Kenapa kau Arum, kenapa?“
Arum mengerutkan keningnya. Dilihatnya ayahnya dengan nafas tersengal-sengal mendatanginya dengan wajah yang tegang.
“Aku tidak apa-apa ayah”
“Sokurlah. Sokurlah. Aku dengar Raden Rudira lewat di jalan ini dan kebetulan sekali berpapasan dengan kau”
“Ya ayah. Untunglah ada kakang Juwiring dan Buntal” Arum berhenti sejenak, dipandanginya petani dari Sukawati itu sambil berkata “selebihnya orang itulah yang telah menolong kami”
Kiai Danatirta memandang petani dari Sukawati itu dengan seksama. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Terima kasih Ki Sanak atas semua pertolonganmu. Tetapi apakah dengan demikian kau sendiri tidak terancam oleh bencana karena tingkah laku Raden Rudira itu. Aku datang dengan tergesa-gesa ke tempat ini setelah seseorang memberitahukan kepadaku, apa yang terjadi. Aku masih melihat perkelahian yang berlangsung, dari kejauhan”
Petani itu mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya “Mereka tidak akan menemukan aku Kiai”
“Siapakah Ki Sanak sebenarnya?“
“Aku seorang petani dari Sukawati”
Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Ia melangkah semakin dekat dengan orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu. Tetapi sebelum ia dekat benar, petani itu berkata “Sudahlah Kiai. Aku akan meneruskan perjalananku kembali ke Sukawati. Aku baru saja menempuh perjalanan jauh mengunjungi sanakku“
“Tunggu” cegah Kiai Danatirta “Aku masih ingin bertanya”
Petani itu tertegun. Tetapi katanya “Sudahlah. Tidak ada yang dapat aku terangkan lagi”
“Kenapa Ki Sanak membantu anak-anakku? Apakah Ki Sanak sudah mengenal mereka?“
“Belum Kiai. Tetapi mereka adalah harapan di masa datang. Karena itu aku merasa sayang apabila benih yang baru tumbuh itu akan dipatahkan” Orang itu berhenti sejenak, lalu “Sudahlah Kiai. Aku akan pergi”
“Tunggu, tunggu“ Kiai Danatirta menjadi semakin dekat. Dipandanginya wajah orang itu dengan saksama, seakan-akan ada yang dicarinya pada wajah orang itu.
Tiba-tiba saja, semua orang yang melihatnya terperanjat bukan buatan. Dengan serta-merta Kiai Danatirta berjongkok di hadapannya sambil menyembah “Ampun Pangeran. Anak-anak itu tidak tahu, siapakah sebenarnya yang telah menolongnya”
Tetapi dengan cepatnya orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itupun menangkap lengannya dan menariknya berdiri “Jangan berjongkok. Kalau kau mengenal aku, jangan kau beritahukan hal itu kepada siapapun”
Tetapi Juwiring dan Buntal telah melihat sikap yang aneh pada gurunya. Demikian juga agaknya Arum, sehingga hampir berbareng mereka melangkah maju dengan penuh keragu-raguan.
Kiai Danatirta tidak lagi berjongkok di hadapan petani dari Sukawati itu. Tetapi sikapnya menjadi berlainan sekali. Bahkan sambil menyembah ia berkata “Ampun. Pangeran. Kami tidak menyangka bahwa tuan akan datang ke tempat ini”
Ternyata panggilan itu telah mengguncangkan dada anak-anak muda yang sudah semakin dekat, dan dapat menangkap kata-kata itu. Sejenak mereka berdiri tegak sambil saling berpandangan.
“Anak-anakku” berkata Kiai Danatirta “Kemarilah. Kau pasti belum mengenalnya. Juwiring yang sudah lama tinggal di Ranakusumanpun pasti belum mengenalnya dengan baik, karena Pangeran ini jarang berada di antara kaum bangsawan. Bahkan Raden Rudirapun tidak.
Juwiring memandang petani dari Sukawati itu dengan dada yang berdebar-debar. Baru kini ia melihat sinar yang tajam memancar dari sepasang mata orang itu. Sementara Buntal yang sudah sejak semula melihat kelainan di wajah pelani itu menjadi semakin gelisah. Ia adalah orang yang pertama-tama berdiri paling dekat dengan orang itu, ketika ia terbanting jatuh dan berguling beberapa kali
Pampir saja menyentuh sepasang kakinya yang kuat. Dan sejak ia melihat wajah itu dari jarak yang sangat dekat, ia sudah melihat kelainan itu.
Arum yang seakan-akan tanpa menyadarinya bertanya perlahan-lahan “Siapakah orang itu ayah?“
“Petani dari Sukawati” jawab orang itu.
Tetapi Kiai Danatirta berkata “Perkenankanlah anak-anak ini mengenal siapakah tuan”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam.
“Bukankah tuan tidak berkeberatan?“
“Baiklah Kiai. Tetapi hanya anak-anakmu, meskipun aku tahu, bahwa mereka bukan anakmu sendiri”
“Terima kasih tuan“ Kiai Danatirtapun kemudian berpaling kepada anak-anaknya, katanya “Inilah yang bergelar Pangeran Mangkubumi”
“Pangeran Mangkubumi?” desis Juwiring. Hampir saja ia berlutut di hadapan orang itu, seandainya orang yang ternyata adalah Pangeran Mangkubumi itu tidak berkata “Jangan membuat kesan yang aneh di tengah sawah ini. Aku adalah petani dari Sukawati. Lihat, masih banyak orang berada di sekitar tempat ini meskipun agak jauh. Tetapi jika mereka melihat sikap kalian, maka mereka pasti akan bertanya-tanya”
“Tetapi, tetapi…” suara Juwiring menjadi bergetar “tuan adalah Pangeran Mangkubumi”
“Ya. Apakah salahnya kalau aku Mangkubumi” Pangeran Mangkubumi berhenti sejenak, lalu “Kaupun pasti bukan anak Kiai Danatirta. Meskipun belum terlalu rapat, aku sudah berkenalan dengan orang yang menjadi ayahmu ini, sehingga ia berhasil mengenali aku dalam pakaianku ini. Bahkan aku sudah mengotori wajahmu dengan debu. Tetapi siapa kau sebenarnya?“
“Namanya Juwiring“ Kiai Danatirtalah yang menjawab “Ia adalah juga putera Pangeran Ranakusuma”

Senin, 13 Februari 2012

Jihad yang sesungguhnya : Nafsu terakhir


Selama empat puluh hari lamanya kedua pasang penganten itu menunda hubunganbadan di malam pertamanya. Amongraga menyampaikan ajaran tasawuf Jawakepada sang istri. Ini dilakukan agar keduanya menjadi jinak dalam ketelenjangantubuh mereka, dan menyingkap cadar rohnya dengan ketegangan syahwat sertabatin. Abdi setia Tembangraras, Centini menyimak wejangan tuannya dari baliktirai ranjang. Baru pada malam empat puluh satunya yang hujan, keduanyabersenggama. Tapi, usai bersenggama Amongraga meningalkan Tembangrarasuntuk mengembara mencari kedua adiknya.

Keempat utusan ayahanda Tembangraras mendengar kabar jika Amongragadihukum oleh ulama Mataram karena dituduh telah menyesatkan ribuanpengikutnya di Gunung Kidul tempat Amongraga bertapa Brata. Para pengikut itudiduga menjadi kehilangan akalnya karena terpengaruh guna-guna kedua murid Amongraga, Jamal dan Jamil. Amongraga dibuang ke tengah samudra. Kabar inisegara diwartakan oleh ke empat pengembara itu ke padepokan. Seisi padepokantak bisa berkata-kata kecuali menitikan air mata. Namun kabar ini justru membuat Tembangraras yakin bahwa suaminya masih hidup. Bersama Centini,Tembangraras pagi-pagi buta meninggalkan padepokan mengembara mencaribelahan jiwanya.Dalam pengembarannya, kedua perempuan itu menyamar sebagai laki-laki.Mengenakan kumis dan berpakian menyerupai laiknya pria. Ditengah jalan merekamenjumpai ke perkampungan para gali kelas kakap. Tembangraras cemas. Ia takhabis pikir jika para pria bengis itu mengetahui jika tamunya yang mengaku santripengembara ini adalah perempuan. Mereka pasti tak cuma merampok barangberhaganya, tapi juga kehormatannya. kekhawatiran Tembangraras benar-benarterjadi. Para perampok itu tahu ketika meraba-raba pakian Tembangraras untukmengambil barang berhaga yang dibawanya, salah seorang menyentuh bagiantubuh kewanitaan putri jelita itu. Tapi Centini tak kehabisan akal. Diamenyodorkan bokongnya, seraya menantang para pria itu agar memasukkannyakeduburnya. Ketika salah seorang hendak memasukkan ke dubur Centini, abdisetia Tembangraras itu menyemburkan kentut semarnya hingga terpentallah parapria di depannya dan dibuatnya kalang kabut.Begitu lama Tembangraras dan Centini larut dalam pengembaraan. Sang TuanPutri putus asa. Ia menggali kuburnya sendiri dengan tangannya yang sudahlemah. Ia membungkukkan tubuhnya dalam posisi duduk dengan kaki
 Selonjor

Centini membujuk tuan junjunganya agar mengurungkan niatnya, tapi takdigubris. Tembangraras memasuki alam roh, mengutus abdi setianya Centini kecakrawala. Di sana Tembangraras bertemu dengan Mangunarsa yang tak lainadalah Jayengsari dan Rencangkapti, kedua adik Amongraga yang telah mati.

Keempat utusan ayahanda Tembangraras mendengar kabar jika Amongragadihukum oleh ulama Mataram karena dituduh telah menyesatkan ribuanpengikutnya di Gunung Kidul tempat Amongraga bertapa Brata. Para pengikut itudiduga menjadi kehilangan akalnya karena terpengaruh guna-guna kedua murid Amongraga, Jamal dan Jamil. Amongraga dibuang ke tengah samudra. Kabar inisegara diwartakan oleh ke empat pengembara itu ke padepokan. Seisi padepokantak bisa berkata-kata kecuali menitikan air mata. Namun kabar ini justru membuatTembangraras yakin bahwa suaminya masih hidup. Bersama Centini,Tembangraras pagi-pagi buta meninggalkan padepokan mengembara mencaribelahan jiwanya.Dalam pengembarannya, kedua perempuan itu menyamar sebagai laki-laki.Mengenakan kumis dan berpakian menyerupai laiknya pria. Ditengah jalan merekamenjumpai ke perkampungan para gali kelas kakap. Tembangraras cemas. Ia takhabis pikir jika para pria bengis itu mengetahui jika tamunya yang mengaku santripengembara ini adalah perempuan. Mereka pasti tak cuma merampok barangberhaganya, tapi juga kehormatannya. kekhawatiran Tembangraras benar-benarterjadi. Para perampok itu tahu ketika meraba-raba pakian Tembangraras untukmengambil barang berhaga yang dibawanya, salah seorang menyentuh bagiantubuh kewanitaan putri jelita itu. Tapi Centini tak kehabisan akal. Diamenyodorkan bokongnya, seraya menantang para pria itu agar memasukkannyakeduburnya. Ketika salah seorang hendak memasukkan ke dubur Centini, abdisetia Tembangraras itu menyemburkan kentut semarnya hingga terpentallah parapria di depannya dan dibuatnya kalang kabut.Begitu lama Tembangraras dan Centini larut dalam pengembaraan. Sang TuanPutri putus asa. Ia menggali kuburnya sendiri dengan tangannya yang sudahlemah. Ia membungkukkan tubuhnya dalam posisi duduk dengan kaki
 selonjor
.Centini membujuk tuan junjunganya agar mengurungkan niatnya, tapi takdigubris. Tembangraras memasuki alam roh, mengutus abdi setianya Centini kecakrawala. Di sana Tembangraras bertemu dengan Mangunarsa yang tak lainadalah Jayengsari dan Rencangkapti, kedua adik Amongraga yang telah mati.

Atas kekuasaan Allah, Amongraga tiba-tiba disadarkan jika semua saudaranya telah mati. Segera saja ia menghentikan pertapaannya dan menemui mereka.Beruntung jenazah-jenazah itu belum dimandikan. Di depan mayat itu Amongragabersujud, dan ketiga mayat itu bisa hidup kembali karena sebenarnya mereka cumapingsan. Tembangraras segera mengenali suaminya, sementara itu kedua adiknyayang terpisah sejak mereka masih kecil, sama sekali tak mengenali jika yang adadihadapannya itu adalah kakaknya yang selama ini dicari. Tembangrarasmemperkenalkan Amongraga kepada kedua adiknya.Begitulah kisah pengembaraan panjang Amongraga yang dikisahkan dalam jilid kesembilan Centini di buku ini. Hingga akhirnya ia bertemu dengan pengembara asalCina yang beragama islam. Dia adalah Endrasena. Amongraga sempat tegangmenemui ratusan pasukan bersenjata di belakang pengembara tampan itu.“Endrasena! Saudaraku! Apa yang kamu lakukan di situ?”“San kamu? Hai pangeran Giri! Jadi begitu, kamu menjauhi semua makhluk untukmendekatkan diri kepadaNya. kamu berupaya berada di kehadiranNya tapi kamubelum bisa lepas dari dirimu sendiri!”Endrasena kemudian menantang Amongraga bermain petak umpet. Bagi yangmemenangkan permainan ini akan mendapat kehadiranNya. Amongraga kalah. Diantara sinar kegelapan , Amongaraga bersujud. Dengan suara terpatah-patah, diamengakui kekalahannya. Endrasena mengingatkan Amongraga bahwa dirinyaterlalu berambisi kepada jihad besarnya, tapi ia lupa akan jihad kecil.“Jihad yang mana?” tanya Amongraga.“Apa kamu lupa bagaimana ayah kita Sunan Giri, telah dikalahkan Sultan Agung?Tak tahukah kamu bahwa beliau telah wafat merana di penjara Mataram,  ” jawabEndrasena. Amongraga masih belum juga paham. Endrasena kini benar-benarmenghilang dari pandangannya. Amongraga dan Tembangraras pergi ke Mataram menemui Aji Nyakrakusuma,panggilan Sultan Agung. Mereka menyatakan keinginannya untuk mencarikedamaian. Keingiannya itu disambut dengan santun oleh Sang Aji. Dikatakan olehraja Mataram itu bahwa raja adalah orang yang terlalubesar yang dilanda rasatakut hebat. Ayah Amongraga mati karena terlalu menginginkan mahakuasa Allahketimbang melayaninya.
“Badai telah menduduki tahta para raja,Sebab untuk membuat gurun, Tuhan, Gusti kita semua. Memulai dari raja dan mengakhiri pada angin.” 
Maka atas perintah Sang Aji kedua pasang suami istri itu berubah menjadi ulat.Satu jantan dan satunya betina. Yang jantan cincinnya berwarna gelap danberbulu, yang betina gelangnya merah dan gembur. Ulat yang jantan dimakan ultan Agung yang akan menjadi putranya dan kelak akan menjadi raja. 

Ulat yangbetina dimakan Pangeran Pekik, ipar sang raja, yang kelak akan menikahisepupunya.Tapi keturunan raja, yang diberi nama arab, Sayidin, yang kemudiangkat menjadiraja Amangkurat I itu melakukan pembantaian para ulama hingga membuatnyatak layak menerima gelar Sultan. Ia mensinyalir ada persekonkolan untukmenjatuhkannya. Ia memerintahkan prajuritnya membunuh siapa saja yangdicurigainya termasuk pamannya sendiri, Pangeran Pekik. Ia membunuh parapejabat Tua dan menggantikannya dengan yang lebih muda.Persaingan perebutan kekuasaan pun terjadi antara anak dan bapak. Pangeran Anom yang mendapatkan dukungan dari pangeran dari pulau Madura melancarkanserangan ke Mataram. Sang raja melarikan diri hingga akhirnya menemukanajalnya dalam pelariannya sebelum mencapai pesisir. Mayatnya dimakamkan diTegalwangi. Di batu nisannya tertulis, yang entah oleh tangan siapa: “Hampir matipada dirinya sendiri, hanya nafsu terakhirnya yang menjelma.”