Rabu, 17 Agustus 2011

TINJAUAN SEJARAH KABUPATEN SRAGEN


Pendahuluan


Hari Jadi Kabupaten Sragen ditetapkan dengan Perda Nomor 4 Tahun 1987, yaitu pada hari Selasa Pon, tanggal 27 Mei 1746. Tangal dan waktu tersebut adalah dari hasil penelitian serta kajian pada fakta sejarah, ketika Pangeran Mangkubumi menancapkan tonggak pertama melakukan perlawanan terhadap Belanda menuju bangsa yang berdaulat dengan membentuk suatu pemerintahan pemberontak di Desa Pandak Karangnangka masuk tlatah Sukowati. ( sekarang berada di kecamatan Masaran, Sragen )

Kronologi
Pangeran Mangkubumi (adik dari Sunan Paku Buwono II di Mataram ) sangat membenci Kolonialis Belanda. Apalagi setelah Belanda banyak mengintervensi Mataram sebagai Pemerintah yang berdaulat. Oleh karena itu dengan tekad yang menyala Bangsawam tersebut lolos dari istana dan menyatakan perang dengan Belanda.
Atas sikap adiknya tersebut Sunan PB II tidak tega kepada adiknya, tapi karena sudah berhutang budi kepada Kompeni, beliau memberi bekal berupa Tombak Pusaka Keraton “Kanjeng Kyai Pleret” dan uang secukupnya.
Pangeran Mangkubumi

Babad Mangkubumen (1746-1757). Dalam perjalanan perangnya Pangeran Mangubumi dengan pasukannya sampailah ke desa Pandak Karangnangka. Di desa ini Pangeran Mangkubumi membentuk Pemerintahan Pemberontak dijadikan pusat pemerintahan Praja Sukowati dan beliau meresmikan namanya menjadi Pangeran Sukowati serta mengangkat pula beberapa pejabat pemerintahan.

Karena secara geografis desa Pandak Karangnangka terletak di tepi Jalan Lintas tentara Kompeni Surakarta-Madiun, pusat pemerintahan tersebut dianggap kurang aman, maka kemudian dipindah ke Desa Gebang yang terletak disebelah tenggara Desa Pandak Karangnangka. Sejak itu Pangeran Sukowati memperluas daerah kekuasaannya serta memperkuat pasukannya dengan bahu membahu bersama saudaranya Raden Mas Said dan Adipati dari Grobogan bernama K.R.T Martopuro dan beberapa kerabat yang bersimpati dengan perjuangan Pangeran Mangkubumi.

Pusat Pemerintahan Praja Sukowati yang ada di Desa Gcbang ini pun akhirnya tercium oleh Kompeni Belanda yang bekerja sama dengan Kasunanan dan akan mengadakan penyerangan ke desa Gebang. Pasukan Gabungan antara Kompeni dan Pasukan dari Keraton Surakarta tersebut dipimpin oleh Patih Pringgalaya (Patih dari PB II). Untung rencana tersebut diketahui oleh Telik Sandi (Intelegen) dan Pangeran Sukowati. Dengan berbagai pertimbangan maka Pusat Pemerintahan akan dipindahkan ke Desa Jekawal.
Dalam proses boyongan dari Gebang ( kecamatan Masaran ) ke Jekawal (sekarang  masuk Kecamatan Tangen ) tersebut melewati suatu Padepokan yang dipimpin oleh seorang kyai, yakni Kyai  Ageng Srenggi. Kyai Srenggi ini adalah salah seorang Panglima Perang dari Sunan Amangkurat  IV di Kartasura yang bernama asli Raden Tumenggung Alap-Alap. Untuk menghilangkan jejak beliau berganti nama Kyai Srenggi.

Pada saat Pangeran Sukowati singgah di padepokan tersebut oleh Kyai Srenggi disuguhi Legen dan Palawija Pangeran Sukowati merasa sangat puas dan beliau bersabda bahwa tempat tersebut diberi nama “SRAHGEN” dari kata “Pasrah Legen” (versi Masyarakat )
Padepokan yang dipimpin oleh Ki Ageng Srenggi kemudian di "SRENGGEN " .Hal ini merupakan tinjauan bahasa naskah dimana sebuah tempat yang dipimpin seorang bangsawan / tokoh pembesar maka nama daerah itu mengikuti nama tokoh tersebut. Sedangkan hal yang wajar terjadi dalam perubahan  naman jika berakhir vokal i + akhiran an maka akan menjadi "en". (Versi Penelitian Budaya)

Setelah pusat Pemerintahan berada di Jekawal maka Raden Mas Said diambil menantu oleh Pangeran Mangkubumi/ Pangeran Sukowati dikawinkan dengan putrinya bernama BRA Suminten.

 perjanjian Giyanti.

Perlawanan Pasukan Pangeran Sukowati semakin kuat dan karena Kompeni merasa terdesak kemudian membuat siasat memecah belah dengan mangadakan Perjanjian Pelihan Negeri atau terkenal dengan Perjanjian Giyanti Tahun 1755 dimana Kerajaan Mataram dipecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta dengan mengangkat Pangeran Mangkubumi/Pangeran Sukowati menjadi Sultan Hamengku Buwono I.

Daerah-daerah mancanegara yang masuk Kasunanan Surakarta adalah Jagaraga, Panagara, separoh Pacitan, Kediri, Blitar, Ladaya, Srengat, Pace (Nganjuk-Berbek), Wirasaba (Mojoagung) Blora, Banyumas dan Kaduwang.

Karaton Surakarta Hadiningrat
Radya Laksana


Sementara daerah mancanegara yang masuk Kasultanan Yogyakarta adalah Madiun, Magetan, Sukowati (Sragen) ,Caruban, separoh Pacitan, Kertasana, Kalangbret, Ngrawa (Tulungagung), Japan (Mojokerto), Jipang (Bojonegoro), Teras Karas (Ngawen), Kedu, Sela Warung (Kuwu Wirasari) dan Grobogan.
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
Praja Cihna


Kemudian pada tahun I757 diadakan Perjanjian Salatiga dengan memecah Kasultanan Jogjakarta menjadi Kasultanan dan Paku Alaman serta Kasunanan Surakarta menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran, dimana Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) ditetapkan menjadi Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I dengan mendapat sebagian wilayah Kasunanan (Wonogiri dan Karanganyar.)
Praja Mangkunegaran

Sejak Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Sultan Hamengku Buwono I samapai dengan Pemerintahan Hamengku Buwono V, daerah manca negara Sukowati menjadi kurang terurus karena jauh dari pusat Pemerintahan Kasultanan Jogjakarta. Pada saat itu timbullah perlawanan pemberontakan dari Madiun dan Ponorogo yang ingin menguasai wilayah Sukowati dipimpin oleh Pangeran Rangga Madiun. Untuk menanggulangi pemberontakan itu Raden Tumenggung Kartowiryo, salah seorang punggawa pasukan Pangeran Mangkubumi di tugasi untuk menghadapi " kraman" atau pemberontakan tersebut. RT Kartowiryo berhasil menumpas pemberontakan Pangeran Ronggo Madiun, dan RT Kartowiryo diangkat sebagai Bupati Penamping (wilayah perbatasan) di wilayah.
Sunan Pakubuwono VII

Sultan Hamengkubuwono V

Pada tangga 17 September 1830, terjadilah perjanjian antara Paku Buwono VII dengan Hamengku Buwono V, daerah Sukowati masuk wilayah Kasunanan Surakarta dan Gunung Kidul masuk wilayah Kasultanan Ngayogyakarta.

Dalam Suatu Pisowanan Agung di Keraton Kasunanan Surakarta KRT Kartowiryo dapat menyerahkan pusaka-pusaka keraton yang hilang saat perang pecinan di Kartasura yang berupa :
> Satu tombak “Kanjeng Kyai Lindu Pawon”
> Satu Keris “Kanjeng Kyai Nogososro”
dan satu keris pusaka milik KRT Kartowiryo sendiri.

Karena sangat bergembira mendapatkan kenbali pusaka-pusaka yang sudah lama hilang dan sebagai penghargaan atas jasa KRT Kartowiryo, maka sejak saat itu daerah Sukowati diserahkan kepada KRT Kartowiryo sebagai daerah “Perdikan”(daerah bebas pajak).
masa Kanjeng Raden Tumenggung Kartowiryo menjadi bupati Mancanagari Sukowati.

Selanjutnya pada tanggal 12 Oktober 1840 dengan Surat Keputusan Sunan PB VII yaitu Serat Angger-angger Gunung, daerah yang lokasinya strategis ditunjuk menjadi Pos Tundan, yaitu tempat untuk menjaga ketertiban dan keamanan lalu lintas barang dan surat serta perbaikan jalan dan jembatan, termasuk salah satunya adalah Pos Tundan Sragen, menurut Serat Perdata Dalem pos Tundan itu terletak di desa Mungkung dekat sungai ( kec. Sidoharjo)

Setelah KRT Kartowiryo wafat, kedudukannya sebagai Bupati Penamping digantikan oleh putra ke V yang nama kecilnya RM Sulomo. Perkembangan selanjutnya sejak tanggal 5 juni 1847 oleh Sunan Paku Buwono VIII dengan persetujuan Resident Surakarta Baron de geer ditambah kekuasaannya yaitu melakukan tugas kepolisian dan karenanya disebut Kabupaten Gunung Pulisi Sragen dan RM Sulomo yang diangkat menjadi Bupati Gunung Pulisi Sragen dengan nama KRT Sastrodipuro.kemudian nama Sukowati mulai beralih ke nama Sragen.
Sejarah Pemerintahan di Kabupaten Sragen
KRT Sastropuro  (
1847 – 1861)
menjabat sebagai Bupati Sragen Pertama

KRT Wiryoprodjo (186I-1903)
 (cucu KRT Kartowiryo) menjabat sebagat Bupati Sragen kedua
KMRT Panji Sumonegoro (l903-1933)
(cucu KRT Wiryodiprodjo) Menjabat Bupati Sragen ketiga sejak 1903 s/d 1933  Sunan Paku Buwono ke X dengan Rejkblaad No 23 tahun 1918 Kabupaten Gunung Polisi diubah menjadi Kadipaten Pangreh Praja sebagai daerah otonom yang melaksanakan Hukum dan Pemerintahan. Beliau merombak pemerintahan dan membenahi arsitektur Kadipaten. Nama beliau diabadikan sebagai nama Pendapa Rumah Dinas bupati Sragen, pendapa Sumonegaran.

KRMAA Yudonegoro(1933-1939)
Bupati Sragen ke -empat

KRMT MR. Wongsinagoro(1939-1944)
Bupati Sragen ke-lima

KRMT Darmonagoro(1939-1944)
sebagai Bupati Sragen ke enam. Setelah Proklamasi tahun 1945 di Sragen ada gerakan Masyarakat yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Kasunanan Surakarta dan bergabung dengan Pemerintah Republik Indonesia.keinginan masyarakat itu disalurkan lewat Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Sragen yang terbentuk pada bulan September 1945 dengan susunan sebagai berikut :
Ketua              : KMRTP Mangunagoro
Wakil Ketua    : Suharni Kusumodirjo (cucu KRT Wiryodiprodjo)
Anggota 25 orang antara lain :
-    S. Mloyo Pranoto
-    Indardjo
-    Tjipto Pranoto,dll.
I.    Keputusan KNI Daerah Sragen
1.    Menyampaikan keinginan Rakyat sragen untuk melepaskan diri dari ikatan Swapraja Kepada Bupati Darmonagoro

2.    Bila Darmonagoro bersedia, tetap diminta menjadi Bupati Sragen.
Bupati Darmonagoro tidak bersedia memenuhi permintaan KNI Daerah Sragen dengan alasan :
-    Sebagai Abdi Dalem beliau harus tetap setia kepada raja.
-    Sikap melepaskan diri itu bertentangan dengan Keputusan Pemerintah Kerajaan
-    Maka sebagai jalan  tengah Bupati Darmonagoro lebih baik menyingkir ke Solo
-    Untuk mengisi kekosongan tersebut dibentuklah Dewan Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen dan mengusulkan KMRT Panji  Mangunnagoro sebagai Bupati Sragen.

Untuk menyatakan lepas dari ikatan Swapradja diadakan Rapat Umum di Halaman Gedung Kontrolir (Kantor Pemda sekarang) yang dihadiri oleh masa rakyat, organisasi perjuangan dan Lurah Desa se- Kabupeten Sragen pada tanggal 26 April 1946. dan mulai saat ini Kabupaten Sragen menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

KRMT. Panji Mangun Nagoro (1946 - 1950 )
Bupati ke-tujuh.


R. Suprapto Wijosaputro (1950 - 1959)
Bupati ke-delapan


M. Mustajab (1959 - 1967)
Bupati ke-sembilan

Suwarno Djojomardowo, SH (1967 - 1973)Bupati kesepuluh

Srinardi (1973 - 1974)
Bupati kesebelas

Sayid Abbas (1975 - 1980)Bupati keduabelas

H. Suryanto, PA (1980 - 1990)
Bupati ketigabelas

HR. Bawono (1990 – 2000)
Bupati keempat belas

H. Untung Wiyono ( 2001-2011)
Bupati Sragen kelima belas

Untung Sarono Wiyono Sukarno (lahir pada 16 Oktober 1950 di Dayu, Desa Jurangrejo, Kec. Karangmalang,  Kabupaten Sragen). Sebagai bupati ia selalu menekankan bahwa "Sragen yang mempunyai sumber daya alam yang terbatas harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang berkompetensi tinggi".Sragen Smart Regency.

Dan sekarang adalah bapak bupati baru kita,..
Agus Fatchurrahman, SH, MH (2011 – 2016)
sebagai Bupati keenambelas.


 
pengangkatan Bupati Sragen tertuang dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) No 131/2011. Visi Misi beliau mengusung pembangunan daerah yang "Mbela Wong Cilik "

Demikian catatan kecil dari Kang Rendra Agusta. Selamat Membaca :D





1 komentar: